Life begins at 30
Yes, it is.
Di 30, saya berhasil melepaskan semua rasa gundah gulana dan mengalahkan ego diri sendiri
Di 30, saya berhasil bangkit untuk kembali berjuang untuk menerima sesuatu yang baru
Di 30, saya menjadi seorang istri
Di 30, saya berhasil meningkatkan kinerja
Di 30, saya sudah bisa masak :D
Di 30, saya menjadi seseorang yang baru
Terimakasih 30, akan aku kenang sebagai bermulanya kembali seorang Ika NH yang baru
Selamat datang 31, saya siyapppp menyambutmu ^_^
Tampilkan postingan dengan label write it up. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label write it up. Tampilkan semua postingan
11 November 2016
19 Agustus 2014
Secangkir Kopi Hangat Tengah Malam
5 menit lalu, tiba – tiba terlintas rasa kesepian yang menjalar
begitu saja saat terbangun dari tidur singkat karena terlalu lelah seharian
dengan pekerjaan kantor yang akhir – akhir ini mulai kembali ke titik
klimaksnya setelah sempat dua minggu lamanya terbengkalai. Ah, begitu seringnya rasa kesepian itu merambat akhir - akhir ini. Mungkin saia masih terbawa suasan di kampung ;D .Cuti, meninggalkan
sejenak hiruk pikuk kota Jakarta, menikmati damai dan tenangnya di sudut sebuah
desa Tembokrejo, Jember, dimana separuh hati saia ada disana, keluarga.
Haaahhh....tapi ternyata, ada rasa kangen juga dengan kota Jakarta dan segala
mimpi yang saya torehkan pada kota ber- Monas dan ber-busway ini :D
Selain kopi “White Frappe” hangat yang menemani saia malam
ini, ada alunan syahdu Dave Koz, Kenny G & King of Convenience. Yes, I
still love them very much, meski lagu mereka mengingatkan saia dengan Toko Buku
Gramedia ;D. Oh ya, jangan lupakan Canon Pachelbel yang juga memberikan nuansa
syahdu romantis malam ini. Dan seketika, sepi yang sempat bergelanyut, menjadi
kembali meriah. Ada semangat yang kemudian hadir.
Sudah pertengahan Agustus 2014 ternyata. Sadar atau tidak,
waktu begitu cepat berlalu dan disinilah saia, kembali menuliskan sesuatu.
Mengenai "proses".
Suatu tahap menuju pencapaian suatu target. Setidaknya itu
definisi saia sendiri. Mungkin Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Wikipedia punya
definisi lebih lengkap dan sistematis dalam menjelaskan apa arti “proses”. Tapi
bagi saia, proses itu punya kata kunci “TAHAPAN”. Setiap orang yang punya
target dalam hidupnya, bisa dipastikan memiliki “tahapan” agar bisa sampai di
tujuan hidup masing – masing, Jika tidak, jangan harap akan sampai pada suatu pencapaian. Maka dari itu, “tahapan” harus disusun sedemikian
sistematis, logis dan disesuaikan dengan masing – masing karakter manusianya.
Saia?! Tahun 2014 ini adalah tahun “berproses” bagi saia. Pertengahan
tahun ini adalah waktunya mid evaluation. Hasilnya? Bisa dibilang “xoxo”, “not
bad”, “i’m proud of my self”. Itulah secara garis besar hasil dari mid evaluation
saia di medio 2014 ini. Project 2014 ini, saia namakan “Self Development Program”.
Project tahunan dengan 3 major project yang dipecah menjadi banyak tahapan. Namanya
juga project jangka panjang, tahapan di awal pasti lagi kenceng – kencengnya,
tahap pertengahan (seperti sekarang ini) mulai agak kendor dan akan kembali
meningkat perlahan di tahapan akhir (mengingat batas target yang semakin
dekat).
Agustus ini, masuk ke Quarter III. Semangat mulai kendur,
malas dan jenuh melanda, berpotensi mengacaukan rencana yang sudah tersusun. Ada kalanya terbersit keinginan untuk berhenti di tengah jalan. Namanya
juga ber-project dengan diri sendiri, pastinya ada banyak excuse yang berlaku.
Ini sebetulnya haram hukumnya. Disiplin, mau tidak mau harus dijalankan, demi
tercapainya target sampai di akhir tahun nanti.
Saia termasuk orang yang cepat jenuh dengan sesuatu yang
bernama jangka panjang dan monoton. Bagusnya, kreativitas jadi terasah untuk
membunuh rasa bosan. Jeleknya, banyak target yang berakhir dengan kegagalan
karena di pertengahan jalan fokus saia teralihkan dengan sesuatu yang lain yang
lebih menarik. Ini terjadi di tahun – tahun lalu. Di 2014 ini, saia paksa otak,
otot & perasaan saia untuk bersinergi. Target yang ada pun saia kerucutnya
menjadi seminimal mungkin. Dari awalnya belasan, saia sisakan menjadi 3. Ya,
hanya 3. Jika dulu saia tidak terlalu mendetailkan proses/tahapannya, sekarang
saia buat se-detail-detailnya dan sejelas – jelasnya. Ternyata, dengan metode
tersebut justru menstimulasi otak saia untuk menikmati setiap proses dan stay
on the track at the same time. That’s great! Saia merasa bahagia &
bersemangat menjalani hidup.
Jika jenuh melanda, refreshing adalah kunci utama untuk menikmati setiap tahapan
hidup.
Buat saia, musik instrumental, buku, kopi, olahraga yang bikin
keringetan, nongkrong, traveling ke pantai atau gunung, menulis & meditasi
rohani adalah jenis refreshing yang
benar – benar bikin pikiran jadi fresh.
Buku. Buku apapun pasti saia lahap asal tulisannya tidak
abal – abal. Teenlit? BIG NO! Magazine? NO! Mereka terlalu komersial, bahasan
yang terlalu acakadut juga kadang bikin saia mual.
Yoga, Zumba, Badminton & Jogging di Taman Suropati
adalah favorit saia. Selain bisa menghilangkan rasa kalut dan galau, dengan
berkeringat juga bisa membuat saia bisa tidur dengan damai :)
Meditasi rohani adalah jenis refreshing yang paling utama
bagi saia. Mendatangkan beribu ketenangan dan kedamaian di setiap detiknya.
Serasa Tuhan ada di setiap hela nafas, hentakan kaki dan kedipan mata. Tuhan
adalah kekuatan dan ruh di setiap tahapan hidup saia. Itu saja sudah cukup ;)
Apapun target yang tersusun, selamat menikmati prosesnya!!! Selamat menjadi manusia yang terbarukan ^_^
30 Desember 2013
Recap 2K13
Akhirnya, sampai juga usia saia di penghujung 2013. Seperti ritual
sebelumnya, pasti saia bikin recap taun yg akan ditinggalkan dan resolusi
blablabla untuk ditaun berikutnya. Saia tau itu klise, dan semua orang (gak
semua jg sih) pasti lagi semangat – semangatnya untuk melaporkan dan menyusun
ini itu di penghujung taun, bukan untuk siapa – siapa, tp untuk dirinya sendiri
sebagai self reminder. Buat saia, itu sangat personal dan saia tidak pernah merasa
se-enerjik ini dalam me-recap pencapaian sekaligus kegagalan di 2013 dan
menyusun “kerangka rencana hidup” saia setaun kedepan di 2014. Mudah2an
bermanfaat untuk yang membacanya :)
Bismillah.
2013.
February 2013
Oke, lupakan!!! Saia lanjut recap aja kl gitu :)
Diawal 2013, tepatnya di bulan Februari, saia secara resmi berhijrah dari
Batam (2009-2012) ke Jakarta. Kenapa?! Karena rejekinya sudah berpindah ke
tanah Jawa, jadi saia mau ‘ndak mau harus ‘ngikut pindah. Bisa dipastikan, Ayah
dan Bunda lah yang paling bahagia atas rencana kepindahan saia itu. Beliau
berdua sudah ketar – ketir, 3 taun lamanya anak perempuan mereka satu – satunya
ada didaratan antah berantah yg sangat jauhhh dari pantauan, takut anaknya lupa
pulang ke Jawa :D
Proses kepindahan itu terjadi begitu cepat. Mungkin sekitar 2-3 bulan-an.
Bermula dari tawaran teman kuliah saia, uming, untuk mengisi posisi kosong di kantor tempat dia bekerja. Awalnya saia tidak
berminat dg tawaran itu, tp entah mengapa, akhirnya saia kirim jg berkas
lamarannya via email. Nothing to lose pikir saia waktu itu.
Kira – kira beberapa minggu kemudian, saia dihubungi oleh pihak personalia
kantor itu dan meminta saia datang ke Jakarta untuk interview minggu depan.
Okeh, hal yg saia pikirkan saat itu, satu, tiket Batam-Jakarta untuk PP itu GAK
MURAH!!!. Dua, NGINEP dimana??? (masa iya nginep di tempat uming?! Kan
cowok!!!). Tiga, turun dari bandara trs NAIK APAAAA??? JURUSAN APAAA??? KEMANA???.
Semua Pops Up itu melayang – layang dipikiran saia. Sepertinya mustahil aja
gitu dan maunya nyerah aja deh.
Tp entah kenapa, adaaaa aja jawaban dari semua kebingungan itu. Satu, untuk
tiket, alhamdulillah masih ada sisa uang tabungan yg masih mencukupi untuk beli
tiket PP Batam – Jakarta, meski habis itu mirissss dan nangis jungkel2 liat
sisa saldo tabungan. Dua, alhamdulillah ada Mbak Ina (kakak angkatan kuliah
dulu) yang bisa ditebengin kost-annya barang sehari-dua hari. Tiga, untuk yang
satu ini, saia terbilang NEKAT. Coba bayangin deh, ke Jakarta hanya bermodalkan
secarik kertas bertuliska:
“Jl. Asofa Raya RT. 04, RW. 01 No. 35 Sukabumi Utara, Jakarta Barat”
Saia perempuan. Dan ini pertamakalinya saia ke Jakarta. Ada rasa takut, tp
saia NEKAT dan berdoa bahwa saia PASTI BISA atas pertolongan-Nya.
Beruntung, ada teman karib saia, Cindi, yg juga di Jakarta bersedia menjadi
navigator saia saat pertamakali menjejakkan kaki di cengkareng. Saia sudah
me-wanti-wanti cindi untuk selalu men-stand by-kan handphone-nya. Ke Mbak Ina
juga. Jadilah dua orang ini yg saia telponin bolak – balik dari bandara, sampe
ke kost-an tempat saia menginap, kost-nya mbak Ina.
2 kali ditolak taxi, karena alamat tujuan yang gak jelas. Taxi ke-3 yang
saya stop, alhamdulillah akhirnya mau menolong. Saia ingat betul wajahnya, bapak
– bapak berperut buncit, berjenggot, ramah. Beliau tidak segan untuk turun dan
bertanya kepada orang sekitar sambil membawa secarik kertas berisi alamat yg
saia bawa. Di dalam taxi, beliau selalu mengingatkan saia untuk berhati – hati,
banyak orang jahat yang mengintai para pendatang baru seperti saia.
Alhamdulillah, kembali pertolongan Allah datang tak terduga.
Dan akhirnya, jam 11 malam saia
sampai jg di kost-an Mbak Ina. Bu Iing, pemilik kost pun ramah dan berulang
kali mengelus pundak saia sambil berucap, alhamdulillah neng, ketemu supir taxi
yang baik banget. Entah apalagi yg harus saia ucapkan atas serentetan peristiwa
seharian tadi, hanya sujud syukur dan untaian do’a panjang dipenghujung malam
itu. Kepada bapak supir taxi itu, jazakallahu khairan katsiran. Mudah2an
kebaikan selalu menyertaimu Bapak.
Begitulah, setelah serentetan tes dan wawancara, 1 minggu kemudian kembali
saia ditelfon untuk bergabung di perusahaan tersebut bulan depan. Selama
sebulan itulah, saia mempersiapkan kepindahan ke Jakarta. Kota antah berantah
yang membuat saia harus rela se rela relanya meninggalkan cinta saia di Batam
saat itu. Dan itu menjadi persiapan terberat saia juga dia. Mudah2an ini adalah
rencana Tuhan yang terbaik untuk semua. Terimakasih atas segala supportnya,
semoga kebaikan selalu menyertaimu Ajusye Oppaa ^_^
Sejak Februari itu, jadilah saia bagian dari “anak gaul yg gak gaul2 amat”
Jakarta. Belajar bahasa “lu – gue”. Awalnya aneh di lidah, tp lama2 sdh
terbiasa meski sering keseleo. Busway dan Angkot menjadi teman saia untuk
kemana-mana. Istiqlal, Monas, Blok-M, Semanggi, PIM, Bunderan HI, GBK, Ragunan,
Kota Tua dan Taman Untung Suropati. Sabtu dan Minggu adalah hari jalan2 saia.
Selama ada shelter busway, semua tempat pasti saia jabanin. Sendiri pun jadi.
Berteman headset, sepatu kets, tas punggung, kamera dan air mineral.
Untuk pekerjaan, tidak terlalu signifikan prestasi yang saia raih selain
pujian “baru kamu yg bisa menghandle posisi ini dg sangat baik, sebelum2nya,
agak kurang kemampuannya”. That’s it. Alhamdulillah. KPI bulan depan, mudah2an
dapet nilai bagus dan bisa naik gaji. Aamiin. Ada keinginan untuk menjajal
kemampuan di operasional atau QHSE, mudah2an ada kesempatan di 2014.
Agustus 2013
Bulan Agustus adalah bulan dimana kehidupan spiritual saia mulai bergejolak. Saia menjadi sosok yang seperti saat di Tsanawiyah beberapa taun lampau. Titik baliknya adalah saat saia merasakan nikmatnya ber-i’tikaf untuk pertama kalinya, di Istiqlal. Dari momen itulah semua bermula. Rasanya, saia sangatttttttt jauh dengan Sang khaliq diwaktu – waktu kemarin. Dulunya, saia merasa dengan shalat 5 waktu saja sudah cukup. Toh hanya itu yang wajib kan? Kalo sunah mah ntr2-an aja kalau sempet. Berjilbab pun gak dari hati, jatuhnya ke gak niat blass, alakardarnya, yang penting berjilbab. Habis perkara.
Bulan Agustus adalah bulan dimana kehidupan spiritual saia mulai bergejolak. Saia menjadi sosok yang seperti saat di Tsanawiyah beberapa taun lampau. Titik baliknya adalah saat saia merasakan nikmatnya ber-i’tikaf untuk pertama kalinya, di Istiqlal. Dari momen itulah semua bermula. Rasanya, saia sangatttttttt jauh dengan Sang khaliq diwaktu – waktu kemarin. Dulunya, saia merasa dengan shalat 5 waktu saja sudah cukup. Toh hanya itu yang wajib kan? Kalo sunah mah ntr2-an aja kalau sempet. Berjilbab pun gak dari hati, jatuhnya ke gak niat blass, alakardarnya, yang penting berjilbab. Habis perkara.
Saat i’tikaf itulah, saia merasakan sangatttttt dekat dg Sang Khaliq. Semua
runtutan kehidupan kemarin seperti terputar didepan mata saia. Semuanya. Sampai
saia pada suatu titik yang langsung menyentakkan hati, fikiran, otak, jiwa dan
raga saia. Titik dimana saia sadar, bekal hidup dan mati saia KOSONG. NOL. Apa
cukup hidup di dunia dg begini2 saja? Jika saia suatu saat nanti menjadi istri
dan ibu, bekal apa yg saia punya untuk mendampingi suami dan mendidik anak2? Apa
yang nanti akan saia pertanggungjawabkan dihadapan Sang Khaliq? Siapa yang akan
menemani saia di alam kubur? Apa yang akan saia jawab saat nanti ditanya oleh
malaikat?
Pertanyaan2 itu yang menggalaukan hari2 saia berikutnya. Semakin saia
galau, semakin kuat keinginan saia untuk lebih berdekatan dg Sang Khaliq dan
semakin kuat keinginan saia untuk lebih mengenal Dia dari dekat. Majelis ilmu
dan majelis dzikir saia datangi dan cari selama saia bisa menjangkau tempatnya.
Usaha itu tidak mudah memang. Beberapa kali saia ditolak oleh beberapa kelompok
pengajian kecil (liqa’). Kenapa saia ngincer-nya pengajian kecil? Karena saia
berpikiran bahwa dg mengikuti pengajian kecil itu bisa lebih personal
belajarnya, intens dan kita tau kualitas dari murabbi’ahnya seperti apa. Penolakan
itu saia anggap wajar, mungkin tampang plus penampilan saia masih preman, jadi
takutnya malah saia bisa membawa pengaruh buruk pada yg lainnya.Wkwkwkwk,
maklum, preman baru insyaf. Tak apa, banyak jalan menuju Roma, ‘ndak bisa yang
kecil, sekalian aja ke pengajian yang gede. Jama’ahnya lebih banyak. Jadi bisa
mendo’akan dan dido’akan banyak orang.
Sejauh ini, saia masih ada ditahapan bawah dan masih butuh banyak belajar,
lagi, lagi dan lagi. Ghirah-nya sampai saat ini masih menyala-nyala. Mudah2an
bisa istiqomah dan semakin banyak teman untuk belajar bersama. Prinsip saia :
“Belajar itu sedikit demi sedikit, yang penting diamalkan terus menerus dan
‘ndak boleh sombong”.
Begitulah secara garis besar bagaimana saia melewati taun 2013.
Peristiwa2 kecil juga ada lalu lalang di 2013.
Peristiwa2 kecil juga ada lalu lalang di 2013.
- Adek saia yang sudah beranjak SMA, mulai berpikiran dewasa dan sudah bisa diajakin sharing masalah keluarga (fiiuuhhhh....akhirnya...)
- Bisa pulang ke Kangean setelah 13 taun lamanya gak kesana
- Punya temen ngocollll baru, Sepri namanya
- Pertama kalinya hiking ke gunung Gede lewat Gunung Putri yang medannya masyaallah bikin linu2 seminggu lamanya
- Bisa pulang kampung setaun 3 kali
- Punya murid
- Belajar TOEFL (lg) :D
Itulah recap perjalanan hidup saia di 2013. Ada banyak pengharapan di 2014.
Nanti akan ditulis di post berikutnya. Apapun itu peristiwa yang sudah
terlewati, pasti ada hikmahnya. Yang baik dilanjutkan, yang buruk tinggalkan
segera, karena waktu tak akan bisa diulang.
Selamat me-re-cap ^_^
11 Juli 2013
Feel so failed that day
Dulu, ditempat kerja yang lama sewaktu saia masih di Batam, jabatan yang
saia pegang tidak hanya berkutat dengan paper work atau hal2 yang berbau
administrasi tetapi juga pekerjaan praktis, yang menuntut saia untuk terjun
secara langsung ke lapangan untuk meninjau suatu proyek. Bukan, bukan suatu
proyek yang besar dan maha dahsyat. Hanya proyek kecil yang berdurasi paling
lama 1 bulanan. Saia tidak akan menyebutnya sebagai sesuatu yang ecek-ecek dan
siprriillll. Segala sesuatu yang namanya tanggung jawab itu harus dilakukan
sebaik mungkin, tidak peduli besar atau kecilnya tanggung jawab tersebut.
3 bulan pertama, saia berusaha keras untuk beradaptasi dengan ritme kerja,
alur administrasi sampai ke pergaulan sosial. Hasilnya? Sukses. Saia berhasil berdaptasi
dengan ritme kerja, mengerti dan memahami alur administrasi suatu proyek sampai
diterimanya saia di lingkup pergaulan sosial dengan rekan2 kerja disana. Hasil
adaptasi tersebut saia nikmati sampai 2 bulan kemudian. Hingga akhirnya sampai
di titik jenuh. Bulan ke-6, saia berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang membuat saia yang tadinya “kelas 12” menjadi “kelas 13”. Dan ini
cara saia untuk lepas dari belenggu kejenuhan. Tidak membutuhkan waktu yang
lama untuk saia “naik kelas”. Di bulan ke-7, saia sudah dinyatakan naik ke
“kelas 13”. Dengan apa? Tentunya dengan berinovasi, menciptakan sesuatu yang
baru. Ritme kerja yang selama ini adem ayem, saia buat menjadi dinamis. Saia
membuat rekan kerja dan pimpinan tidak menganggap remeh posisi ini. Ya, dulunya
posisi ini bisa dibilang posisi yang “cemen”, karena memang kalau saia pikir
sih orang2 terdahulu tidak capable untuk berada diposisi ini. Ruang lingkup
kerja saia perluas, tidak hanya menerima data mentah dari lapangan, tapi saia
juga harus nyebur dan mengobservasi keadaan di lapangan dengan mata kepala saia
sendiri untuk kemudian mengolah data itu sehingga dapat diproses untuk
diuangkan.
Tidak hanya ritme kerja yang saia jadikan dinamis, tapi juga alur
administrasi yang tadinya berbelit dan terlalu banyak kepala yang terlibat
dalam proyek “kecil” itu, saia pangkas. Ringkas dan cepat. Semua yang sekiranya
bisa saia handle sendiri, akan saia kerjakan dg mandiri, tanpa perlu menunggu
hasil pekerjaan orang lain.
Berada di “kelas 13” membuat orang sekitar merasa aware dengan keberadaan
“posisi” saia. Yang dulunya menganggap siapa saja bisa menjadi di posisi ini,
sepertinya sekarang tidak lagi. Karena standard yang sudah saia pasang untuk
posisi tersebut tidaklah main2. Baik itu standard gaji maupun standard calon
karyawannya sendiri.
Sampai di suatu saat, tepat di bulan 12, di bulan yang sama setahun
kemudian saia memutuskan untuk menyudahi belajar di “sekolah” ini. Jenuh? Tidak
sepenuhnya karena itu. Tetapi lebih karena saia harus “naik kelas” lagi. Di sekolah
yang ini, kelas yang ada untuk saia ternyata mentok do “kelas 13”, tidak bisa
naik kelas lagi. Hufffttt, ya sudah, solusinya saia harus mencari sekolah lain
yang menawarkan “kelas 14”. Dan disinilah saia sekarang. Masuk ke “kelas 14”.
Sudah memasuki bulan ke 5, dan saia masih di fase adaptasi. Agak lama memang.
Sepertinya saia harus menyusun ulang strategi “belajar”. Strategi lama terlalu
usang untuk digunakan disini.
Hari ini, saia merasa gagal. Persiapan belajar saia tidak matang. Kurang
belajar, kurang observasi, kurang data dan evidence, kurang confidence, terlalu
takut salah, dan tidak bisa me-manage waktu.
Ujian satu semester saia bekerja diposisi ini akan dimulai. Kesuksesan di
mid semester kemarin, ternyata masih belum ada apa2nya. Besok, saya akan ada
proyek “kecil” lagi. Meski agak gagal di persiapan awal hari ini, tapi pimpinan
saia masih mempercayakan proyek “kecil” ini menjadi milik saia. Meskipun masih
di-guide oleh senior saia, tapi tak apa, belajar itu bukan berakhir di berapa
nilai akhirnya, tapi lebih ke kecepatan proses belajar itu sendiri. Tak apa
gagal di persiapan hari ini, tapi besok, jangan lagi ada kata gagal.
11 Desember 2012
ini tentang lelaki bermata sendu
Ini tentang lelaki bermata sendu
*mudah2an dia ga’ tau postingan
ini, karena klo tau, saia bisa spot jantung mendadak*
Saia mengenalnya hanya beberapa
bulan lalu dan langsung merasa jatuh hati pada mata sendunya. Tolong
digarisbawahi kalimat “MERASA” - nya ya.
Well, kalo dipikir – pikir ke belakang,
rasanya hati saia ini gampang sekali jatuh pada lelaki model – model begini.
Mata sendu, terlihat baik hatinya dan murah senyum. So typical, sepertinya
semua perempuan juga suka dan mau bilang apa kalo sudah hati yang berbicara.
Cuma ya itu, berdasarkan pengalaman saia jatuh hati kepada beberapa lelaki
(meski ga’ ada satupun yg berlanjut ke arah berpacaran, karena Ajusye Oppaa-nya
saia punya standard terlalu tinggi untuk dapat ditaklukkan oleh para lelaki
ini), tampang bisa aja sendu kayak ga’ punya dosa & baik hati ke semua
orang itu, tapi itu semua ga’ menjamin kenyamanan saat berduaan saja dengannya.
Maklum, untuk masalah kenyamanan ini menurut saia sangat penting saat menjalin
suatu relationship, baik itu pertemanan maupun berpacaran.
Long story short, sudah hampir 3
bulan ini saia mengenal “lelaki bermata sendu” ini. Seiring semakin intensnya
pertemuan yang melibatkan berbagai macam topik perbincangan di beberapa suasana,
sampailah saia pada suatu penilaian tentang lelaki bermata sendu ini. Pun dia
pastinya juga sudah punya score tersendiri untuk saia. Mungkin betapa cablaknya
saia, agak tomboy, tiba – tiba ngilang trs muncul tiba - tiba, pemaksa padahal
bukan siapa2, pencemburu yg terlalu dini, super duper jahil, dll, dsb, dst, dan
itu terserah, dia berhak untuk menilai saia seperti itu.
=> => So far, lelaki bermata sendu ini memang agak
bawel dalam beberapa hal, hanya saja kebawelan dia ini adalah dampak dari
sifatnya yg cenderung tergesa – gesa dan gampang panik jika dihadapkan pada
satu kondisi yg ga’ normal. Padahal diawal perkiraan saia, dia berperawakan
cukup tenang, dan untuk satu ini ternyata saia salah. Pointless.
=> Dia baik hati. Memang. Ke
semua orang tapinya. Well, sama sekali ga’ ada yg salah dengan baik hatinya ini. Yang salah adalah
penafsiran saia yg terlalu ke-ge-er-an dg semua perhatiannya. Awalnya perhatian
itu saia anggap istimewa (yg mana harusnya Cuma saia yg dapet), tetapi ternyata
perhatian itu tertebar juga ke semua orang, jadi sebetulnya biasa aja kan ya?!
*Ketawa* *Dalam hati nangis*. Well, time heals the pain, meski awalnya kecewa
mampus, alunan musik jazz di ipod tiap pagi mampu menyembuhkan kekecewaan ini
dan akhirnya menjadi biasa saja. :)
Be right back. Buka kulkas. Ambil
secuil chunky bar. Ngunyah. Telen. Lanjut nulis.
=> Saat berdua, serunya
perbincangan hanya terjadi saat saia hanya bisa menatap punggungnya. Saat
perjalanan pulang misalnya. Tapi saat berhadap – hadap – an mata ketemu mata,
kalo persentase hanya terbatas 100% maka 80% perbincangan ada diantara dia
bersama smartphone-nya dan akan berhenti saat makan, baru keberadaan saia tak
lagi terabaikan. See?! Membosankan? SANGAT. AMAT. BANGET. Rasanya pengen bilang
“OIIYYYY, MASSSSSS, AQ DUDU’ WATU LOH!!! AJAK-EN OMONG PO’O” *ngambil paksa
BB-nya, injek2, tamat riwayat si BB, puassss*.
Mungkin ini karena kami belum
mengenal terlalu lama, jadi dia-nya masih grogi ngobrol sama saia (ini prasangka
positifnya) atau malah si BB lebih cantik daripada wajah saia?! *BRB. Mau Operasi
Plastik Dulu*
Tragedi diatas ga’ bakalan
kejadian kl saia bareng sama Ajusye Oppaa. Saat kami berduaan, mau disebelah
ada cowok/cewek secakep malaekat lagi
jengking2 ato ada panggilan masuk yg urgent mampus, ga’ bakalan mengusik serunya
obrolan kami. A sampai Z pasti ada dalam pembahasan, 1 sampe sejuta kali ketawa
pasti jadi bumbu disetiap cemoohan. Iya, kami gila, bodoh dan kekanak – kanak –
an jika berdua. Itulah romantis. *Oiiyyyy, ganti topik Oiiyyyyyyyy*.
Well, sementara 3 point diatas yg
bisa saia jabarkan tentang Lelaki Bermata Sendu. Kalo ditanya, jadi kalian
sekarang gemana? Jawabnya : ga’ gemana2 sih, dia itu Mas Bawel yg
sanggaatttttttt baik buat saia, dan saia adalah Adek Rese’ dg segudang
kejahilan yg rese’ banget buat dia (karena jahilin dia itu adalah kebahagiaan
saia :D).
So, menurut saia, jangan pernah
terpatok pada rasa yg tercipta di awal saat mengenal seseorang, karena dalam
perjalannya, rasa itu bisa berubah arah beberapa derajat bahkan hingga 180 derajat,
berlawanan sama sekali dg apa yg dirasa diawal pertemuan. Sekian.
04 Oktober 2012
DI-nisty malam ini
Begitulah "lelaki pendiam yg menyebalkan" ini biasa saia panggil. a new comer, baru beberapa bulan kemaren bekerja di divisi cari mangsa (bukan divisi sejujurnya :D ). Posisi yg dulu sempat ditawarkan untuk saia, tp tertolak mentah2 karena 1 alasan : bos-nya punya muka ga' santai ;)))
Tadinya ingin menuliskan tentang "warna merah jambu" diatas, tentang si Hasby yg akhir2 ini mulai meracuni pagi hari saia. Tetapi ternyata, keadaan berbalik 180 derajat, saat saia stuck membaca catatan Dahlan Iskan di wordpress. Sebagai DI-nisty yg sangat memuja-muja tulisan2 beliau yg sangat sangat inspiratif, tentunya si Hasby dengan cepat bergeser posisinya, berganti dengan ungkapan rasa memuja saia sebagai DI-nisty, super LOL!!!! ;D ;D ;D
Seperti biasa, setiap saia baca kalimat demi kalimat tulisan itu, buncahan semangat dan berton2 endapan passion yg ada dikepala bermunculan. Bahkan saia mampu menghadirkan imajinasi di setiap kalimat beliau seperti ini :
duduk bersila di depannya, berjejer dg orang2 yg menjadi inspirasi disetiap tulisan beliau, cangkruk (yg mana ini adalah hobi akut saia) dari malam sampai menjelang pagi (kopi hitam manis & pisang goreng/singkong rebus pasti ada), menyusun strategi HOPE untuk esok pagi. Kami bagaikan sepasukan tentara yg sedang berdiskusi di setiap malam berembun dg Pak DI sebagai Panglimanya. Kami menyebut malam itu "discuss", bukan "briefing", karena panglima kami menginginkan penyusunan strategi HOPE itu tidak hanya dari beliau tapi juga kami, sepasukan kroco2 ini jg harus ikut ambil bagian di session "brain storming" tersebut. hhuuaahhhhhhh, malam yg sangat indah jika saia bisa benar2 terlibat dalam perbincangan dg beliau.
Meski sepertinya saia belum berkesempatan untuk berjuang bersama beliau secara langsung, namun semangat Pak DI insyaallah ada dalam diri saia. Bangsa ini butuh sejuta DI untuk maju, dan salahsatunya (bisa jadi) adalah saia. Mudah2an. Amien.
Terus menulis PaK DI, saya jatuh cinta sama tulisan sampeyan ;))))
Terus menulis PaK DI, saya jatuh cinta sama tulisan sampeyan ;))))
05 Agustus 2012
penyesalan yang sangatlah kampret
Disini saia sekarang, di sudut lantai 3 Mc Donald, Nagoya yg penuh asap rokok dan sekumpulan remaja tanggung and still...........in Batam.
Duduk dengan tenang, ditemani layar "talenan" yg sdh 1 jam lamanya menampilkan tab demi tab halaman situs yang saling berloncatan. Silih berganti dari berita ini ke berita itu, berita sana ke berita sini, sampai akhirnya saia terpaku pada satu topik cerita yang nantinya membuat saia menyesal sdh menelusuri dg tekunnya.
Duduk dengan tenang, ditemani layar "talenan" yg sdh 1 jam lamanya menampilkan tab demi tab halaman situs yang saling berloncatan. Silih berganti dari berita ini ke berita itu, berita sana ke berita sini, sampai akhirnya saia terpaku pada satu topik cerita yang nantinya membuat saia menyesal sdh menelusuri dg tekunnya.
Maritime Challenge (MC)
Topik KAMPRETT inilah yang akhirnya memenuhi tab - tab tampilan situs yang saia baca detail demi detail sampai jarak mata ke layar "talenan" hanya tidak lebih dari 10 centi *foookkkeeuusss*.
Maritime challenge ini salah satu UKM paling KEREN se ITS RAYA. Pas dulu saia jadi mahasiswa polos banget baru masuk ceritanya, UKM ini sdh aktif 'ngirim team-nya ke ajang kompetisi internasional sebagai duta bangsa. Namanya jg mahasiswa polos ya, jadilah saia yg saking polosnya ini baru tau ada UKM ini pas sdh semester tuwak. Sekitar semeter 6-an, *Ya oloohhhhh....kemana aja sik gw waktu itu #ketokinPalaKeTembok*, dan sudah teramat sangat terlambat sekali buat daftar jadi anggota barunya.
Hhhhaahh, jadilah saia hanya bisa menyimak perjalanan para pendekar ini dari cerita, kisah & pajangan foto2 di dunia tidak nyata tanpa bisa merasakan secara nyata legamnyan kulit terbakar sinar matahari, membau-i anyir lautan ditempat berbeda, semangat ITS di daratan yg berbeda dan terjangan ombak di arus yg tak sama.
Pekik rasa haru & gembira itu saat kita meraih suatu penghargaan hasil semangat sekeras baja, pengorbanan yg tidak sedikit dan tetes keringat yg membanjir, terakhir kali saya rasakan beberapa tahun silam. Sungguh sangat bisa membuat tidur menjadi nyenyak se nyenyak - nyenyaknya dengan senyum mengembang tanpa beban. Kini, harusnya semangat team MC ini bisa menyulut kembali apa yg sudah padam beberapa tahun silam.
Daannnnnnnn...adek - adek ini terlihat sangat KEREN di mata saia *haruuuuuu*.
13 Maret 2012
when I was a baby
"a new baby is like the beginning of all things - wonder, hope, a dream of possibilities"
Eda J. Le Shan
I like those pictures of babies.
Those remain myself that:
I could do something crazy, impossible, unreal and colorful
I could cry all the times without any worries
I could feel so curious w/ something and don't care about the right answer
I could laugh freely, get mad & upset anytime to show my heart feeling
................................................................................................. when I was a baby ^__^
19 Februari 2012
I wish I'd never grown up
I wish I'd never grown up
Why?
First, being 20-something brings me so many responsibilities..... graduate from college, earn much and more money, get married soon, have a good reputation in society, choose the best decision for some problems, no more excuses for any mistakes, have no one to blame but myself and so on.
I pretty much made myself a miserable wreck thinking about how afraid I was to be a "grown up"!
Second, being an adult, why does everything have to be soooooo complicated? It would be so much easier to go back to my childhood days when the only things I was scared of was monster on TV or the grumpy teacher of art lesson at school?
But, this is the best quot I found and make me realize that :
growing up is an option, growing older is not.
02 Februari 2012
I quit and begin new career
Ahhhhhh, dari judulnya aja sudah keliatan dong ya saia mau ngemengin apaan? Huehehe, Iya, saia "quit" dari kantor lama dan "begin new career" di kantor baru. Kemarin adalah hari pertama saia ;)
Dulu, pas dia awal-awal merasakan jadi "pekerja", saia sediiihh banget kalo ada rekan kerja yg memutuskan untuk resign. Berasa kehilangan banget gitu. Apalagi kalo sehari-hari-nya sudah terbiasa dengan celoteh bareng, gosip bareng, caci-maki bareng, pokoknya semuanya serba bareng. Daasshhhhhhh, saat dengan tiba-tiba orang barengan kita itu menghilang, sehari-2hari-3hari maleesss bgt rasanya mau kerja. Maklum kan ya, masih penyesuaian.
Sekarang?! ternyata sudah biasa aja dengan yg begituan, wkwkwkwk, malahan klo ada yg memutuskan untuk resign, saia biasanya akan bilang begini : "waahhh, mantap Bro!!!!! keputusan yg tepat banget itu, doakan saia cepet nyusul ya!".
Dan kalimat "eh, kalo ada lowongan disana, info-info ke aku ya" dan "disana dapet gaji berapa Bro? lebih dari cukup buat makan kan?" atau "alamat HRD-nya apaan ya? ntr aku kirim CV-ku ke dia boleh?"
pasti terlontar disetiap ke-resign-an rekan kerja.
Yg biasanya nanti dijawab : "okelah, aman itu!" atau "ah, ngga' koq, lumayan lebih gede lah gajinya dari sini". Ya...ya..ya...apapun itu, disetiap resign-nya seseorang, pasti ada cerita di baliknya.
Cerita saia? Huehehe, intinya sih cuma 2 : "I don't want to be treated like a child anymore" dan "shit! I need more money". Ekstrim ga' tuh?!
Jadi begini, teori paling sahih di dunia "pekerja" seperti ini : MOTIVASI TERTINGGI UNTUK BEKERJA ADALAH GAJI!. Semua pasti setuju dengan ini. Siapa yg engga'? Untuk saia, tak ada penyangkalan sedikitpun untuk teori itu.
Dikantor lama, saia mulai bekerja dengan designation sebagai "Management Trainee". Keren? ENGGA' JUGA!. Tergantung dari siapa yg menginterpretasikan. Kalo yg nanya orang bule, dia pasti jawab begini "wow! that's great, in the future you'll be a manager"
(kenapa dia bilang begitu?! karena di amrik sana, yg namanya MT itu adalah seorang pekerja yg dipersiapkan untuk me-manage suatu pekerjaan atau istilah lainnya MANAGE-R).
Nah, kalo yg nanya orang kita sendiri, jadi anjlog banget interpretasinya. Coba simak percincongan berikut:
"eh, posisi lu di kantor ini apaan sih?"
"Management Trainee"
"ooooooo, nanti lu bakalan jadi trainer ya? trainer-nya welder sama fitter yg biasanya di BTC itu ga' sih? iiihhhhhh, lu kan cewek, masak iya pegang2 las-las-an gitu"
"eeeeeeeerrrrrrrrgghh, iya, buat ngelas otak lu!!!!".
Sampai disini saia jadi berpikir tentang betapa ga' kerennya jadi MT disini. Bwuakakakakakk.
Dan MT program saia pun berlanjut selama setahun lebih. Ada banyak kisah, ada banyak pelajaran dan ada banyak kawan. Tak ada istilah useless di kamus saia. Semua yg sudah terjalani selama MT program adalah sesuatu yg sangat berharga. Bergelut dengan per-listrikan, betapa ga' pernah bersihnya bekerja di bagian mechanical, betapa ga' enaknya yg namanya nge-las, betapa bejibun printilannya sistem perpipaan, betapa bete-nya nungguin docking/undocking kapal seharian dan betapa menyengatnya bau cat apalagi kalo di dalem tanki. Semua itu sesuatu buanget buat saia \(^0^)/
Pertengahan 2011, saia resmi masuk di bagian "Commercial Officer" meski posisi masih MT dan baru resmi menjadi officer beneran di akhir 2011. Disini, ada lebih banyak kisah lagi. Please meet my colleagues (ex.), they're such a great guy and teacher for me:
Pekerjaan ini menuntut saia untuk menjadi manusia "setengah jiwa". Setengah jiwa bekerja dengan debu, asap, korosi dan bising, setengah jiwa lainnya bekerja dengan kertas, kalkulator, tabel dan angka. Saia yg pada dasarnya adalah orang yang cepet bosen ini, merasa cucok dengan bidang per-commercial-an ini. Jadi sebisa mungkin setengah hari saia habiskan waktu bergulat di "field" dan setengah lainnya duduk tenang di "office". Suasananya pun membuat saia betah banget disini. Hari - hari yg menyenangkan, tertawa ngakak, gossip murahan, makan siang delivery order Nasi Padang, sampe cacian-makian di sana-sini yg bikin ngangenin. Guys, I'll miss u all so muccccccccccccccccchhhhhhhhhhhhhhhh ;(
Selama beberapa waktu lamanya (sekitar 7 bulan) menikmati dinamisnya per-commercial-an, sampai di suatu waktu, akhirnya saia tersentak kaget, dan tersadar, "what the hell am I doing here? I feel like, I don't belong here".
Sudah cukup rasanya waktu saia untuk menjadi "anak bawang" yg hanya menguntit dan berada di belakang bayangan orang lain.
Sudah waktunya untuk saia berdiri dengan "nama" saia sendiri bukan dengan inisial orang lain.
Sudah waktunya untuk saia bertanggung jawab dengan apa yg sudah dilimpahkan ke saia bukan lg bersembunyi di balik ketek orang lain.
Dan sudah waktunya untuk saia mendapatkan reward atas suatu keberhasilan bukan hanya bertepuk tangan sebagai supporter orang lain.
Once more "I hate to be treated like a child" and that's why I decided to quit and start my new chapter. Wish me luck ^_^
26 November 2011
tentang merantau part 1
Bersabarlah dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus - meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yg mengalir
Sungguh didalam sabar ada pintu sukses dan impian tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan masa muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah mencapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yg tak mengerti apa yg kaukatan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
Syair Sayyid Ahmad Hasyimi
Ini akibat ter-influence sama "Ranah 3 Warna" nya A.Fuadi. Bukan, bukan, bukunya bukan punya saia. Bukunya pinjeman dari si Zuhdi, yg mana dia nya pinjem jg dari Pak Ami. Wkwkwkwk, minjem berjamaah nih ceritanya.
Ga' bisa dipungkiri lagi kalau di dalam diri saia ini tertanam jiwa merantau hasil titisan dan ajaran Bunda tertjinta. Gemana engga'?! lah wong dari lulus SD sampe sekarang, saia ga' pernah lama di rumah selain liburan panjang. Begitupun sekarang, saat saia memutuskan untuk merantau bermil-mil jauhnya dari hangatnya rumah. BATAM. Jauh ya Mak?!. Ini adalah rantauan terjauh saia sejak lulus SD.
Rantauan jaman piyik (SMP slash Mts.)
Gemana rasanya kalo abis lulus SD lgsg disuruh sekolah yg jauhnya sekitar 2 - 3 jam-an dari rumah? yg bisanya cuma Minggu doang merasakan hangatnya rumah? Baru lulus SD loh, LULUS SD???? (nada-nya nyap-nyap bgt nih).
Ya, itulah keputusan Emak saia waktu itu, sekitar taun '98-an lah, untuk menyekolahkan saia di Mts.N Bangkalan. Sekolah yg saat itu menurut saia:
- sangat rendahan (udah ngebayangin yg sekolah disini murid-nya pasti ga' pernah belajar alias bego' bego'),
- sangat kampungan (udah ngebayangin yg sekolah disini muridnya pasti bandel mampus, kerjaannya bolosan mulu, buangan yg ga' ketrima di SMP negeri),
- kalo saia sekolah disana, mau dikemanain otak saia yg lumayan encer ini (saat itu NEM SD saia plg tinggi se kecamatan, lumayan encer kan? lumayan doank kq!!),
- 'ngekost?! (ini yg paling bikin saia sengsara, mengingat umur segitu saia masih cengeng dan pasti senioritas menggila di sana, gemana coba klo saia diapa-apain? hiks!).
- kalo saia sekolah disana, mau dikemanain mimpi saia? (di benak saia dulu, sekolah di SMP itu keren bangetttt, dan kalo ditanya "sekarang sekolah di mana?", dg bangganya saia bisa bilang "di SMPN anu kelas anu").
- Pardon my thoughts at that time ^___.^
Dan saia protes habis-habis-an atas keegoisan emak saia waktu itu, si Emak tetep kekeuh dg keputusannya, ga' bisa diganggu gugat.
Long story short, jadilah saia yang masih piyik ini diharuskan untuk nge-kost. 3 bulan pertama diwarnai dengan tangisan bombay dikamar mandi sambil ngidupin keran air berharap ga' kedengeran orang banyak pas nangis gerung-gerung.
Disana, saia belajar banyak, belajar nanak nasi (awalnya nasi saia hanguss, nguss, nguss sampe panci saia hitam legam gara2 lupa ngangkat & kurang air, untungnya ada mba'2 yg baik hati bagiin nasinya sampai saia bener2 bisa nanak nasi), belajar masak sop sama sambal kering tempe (yg bisa tahan sampe 3 hari-an), belajar ke pasar buat beli bumbu2, belajar nyuci, belajar nyetrika, belajar berbagi kamar, belajar ngatur uang jajan biar bisa bertahan sampe akhir bulan dan belajar bersabar kalo ada yg iseng nyolongin barang2 saia.
Beranjak kelas 3 awal, emak sekeluarga saia pindah kerja ke Jember (kampung halaman bapak), dan saia diputuskan untuk tetap nerusin sekolah di Madura. See? pernah ngebayangin kalo dulu saia ini anak angkat. Gemana engga' coba, tega-teganya ninggal anak yg masih piyik ini sendirian. Jember - Madura itu jauh mampussss loh. Gemana kalo kangen? gemana kalo saia kenapa2? dan gemena-gemana yg lainnya.
Dengan pemikiran "ya udah deh, mau gemana lg, toh cm setaun ini" dan menimbang karir saia lagi bagus-bagusnya di sini (taeeeeeee...), akhirnya saia lanjut ngekost dengan intensitas pulang kampung 4 bulan sekali (pas liburan Catur Wulan) dan nangis di bantal kalo lagi kangen sama rumah ;(
Yaaahh, itulah perantauan saia untuk pertama kalinya di taun '98, dg umur yg masih beranjak 12 taunan. Jadi untuk orang tua yg mau nyekolahin anaknya jauh-jauh selepas SD, dipikir mateng-mateng dulu ya Pak, Bu'...begitu menderitanya kami-kami ini harus menantang hidup sendirian di perantauan ;)
Tapi dibalik itu semua, inilah hikmahnya:
- Semua pemikiran - pemikiran yg saia sebutkan di atas, SALAH semua. Sekolah saia itu JAUH dari kesan rendahan dan kampungan. Disanalah saia diajarkan untuk mengerti, memahami dan melaksanakan ajaran agama Islam dengan benar dan menyelaraskan agama dg ilmu pengetahuan (disaat murid lain di SMP pelajarannya cuma ada 7-8, saia harus melahap dua kali lipat banyaknya). Dan saia sangat berbangga dg pencapaian saia saat itu, jadi Ketua OSIS, Ketua Kelas, Ketua OSIS se MTs Madura & NEM tertinggi se Mts Madura. Wkwkwkwk, agak nyombong dikit boleh kn? dikit aja kq!!
- Saia jadi punya teman2 baru, yg mana kalo saia ga' merantau, palingan yg dikenal cuma itu-itu aja. Pas itu saia punya Geng loh, ada Nunung, Ummu, Khusnul & mba' Wardhani. Ini cuma intinya aja, ada sekitar 10-15-an lah klo sudah ngumpul. Cuma saia lupa namany satusatu. Dengan mereka, saia merasakan kedinamisan sekaligus persaingan yg luar biasa dan merekalah keluarga kedua saia disana. Pun sampai sekarang. Miss U all guys.
- Ngototnya emak saia untuk menyekolahkan anak sulungnya ini jauh-jauh kesana ga' lain dan ga' bukan adalah supaya anaknya ini jadi wanita yg benner2 wanita, ga' pecicilan dan ga' tomboy. Bwuahahahaha, rasarasanya sih, tujuan emak saia yg ini ga' tercapai sepenuhnya. Maaf ya bunda, kalo pecicilan & tomboy itu sepertinya sudah anugerah dari sana-nya dan ga' bisa berubah ^_____________^
Ironis memang, disaat anak seumuran saia asyik bermain &
bermanja-manja sama emak - bapaknya, saia harus belajar banyak untuk
bisa bertahan dan mandiri. Kedewasaan yg sangatlah premature menurut
saia, tp semua pembelajaran itu sangat berharga dan saia sangat
berterimakasih atas ngototnya Emak saia waktu itu.
Saia tau, hati beliau
sebetulnya sangat tidak ingin berpisah jauh dan sebisa mungkin melihat
tumbuh kembang saia sedekat-dekatnya, tp semua itu terkalahkan oleh
keinginan beliau yg sekuat baja untuk menjadikan saia wanita mandiri,
tidak cengeng dan melihat dunia luar yg tak ada batasnya ini. Makasih
Bunda, love u much ;)
Begitulah awal perjalanan merantau saia, yg kedepannya akan diikuti oleh perantauan-perantauan berikutnya.
To be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)










